POTENSI PEREMPUAN PUTUS SEKOLAH DALAM BIDANG KULINER

Analisis Potensi Perempuan Putus Sekolah Dalam Kompetensi Kuliner Khas Lombok di Kabupaten Lombok Tengah

by : Syech Idrus

PENDAHULUAN

Angka putus sekolah di Provinsi Nusa Tenggara Barat, khususnnya di Kabupaten Lombok Tengah cukup tinggi, yaitu sebesar 65,7% dari jumlah penduduk sebanyak 831,286 jiwa. 37,8% dominasi perempuan (BPS,2008). Selain dari pada itu, tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan oleh perempuan di kabupaten ini, 25,9% berpendidikan sekolah dasar, SMP sebesar 13,7%, SMA/MA/SMK sebesar 8,1%, dan hanya 1,6% tamat dari perguruan tinggi.

Berdasarkan angka tersebut, tentu akan terjadi kesenjangan antara kompetensi pencari kerja dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh pasar kerja (mismatch). Namun demikian, masih ada ruang dan peluang kerja yang dapat diisi oleh perempuan putus sekolah, yaitu wirausaha dibidang kuliner. Kuliner merupakan bagian dari kegiatan wisata alternatif, dewasa ini tumbuh dan berkembang dengan pesat, khususnya di daerah wisata.

Umumnya perempuan mempunyai kesukaan memasak, dan di Lombok sebagian besar dalam upacaranya selalu ada acara makan,dengan menghidangkan kuliner khas Lombok. Sehingga, dapat diasumsikan bahwa perempuan putus sekolah di Kabupaten Lombok Tengah, mempunyai kemampuan dan keterampilan dalam mengolah kuliner khas Lombok.

Akan tetapi, timbul masalah, pada diri perempuan putus sekolah di Kabu-paten Lombok Tengah, dengan ciri sebagai berikut: (a) mempunyai keinginan untuk usaha, tetapi tidak terampil dalam mengolah kuliner khas Lombok. (b) mempunyai keinginan untuk usaha, dan terampil dalam mengolah kuliner khas Lombok, tetapi kurang percaya diri terhadap keterampilannya, (c) mempunyai keinginan untuk usaha dan trampil dalam mengolah kuliner khas Lombok, namun tidak punya modal, (d) mempunyai keinginan untuk usaha, dan terampil dalam mengolah kuliner khas Lombok, tetapi tidak mengetahui cara untuk memasarkan produknya, dan (e) kurangnya akses informasi tentang kebutuhan kerja, berkaitan dengan kuliner khas Lombok.

Untuk memecahkan masalah ini, alternatif solusinya,adalah mengoptimalkan potensi pengetahuan dan keterampilan perempuan putus sekolah dalam mengolah kuliner khas Lombok, agar nantinya perempuan putus sekolah bisa mandiri dan memperoleh pekerjaan, sesuai dengan bidang keahlian dan kebutuhan pasar.

PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, dapat dirumuskan masalahnya sebagai berikut :

“Bagaimanakah potensi perempuan putus sekolah di Kabupaten Lombok Tengah., berdasarkan umur, tingkat pendidikan, aktivitas sehari-hari, sifat dan tingkat percaya diri, akses informasi, pengetahuan dan keterampilan dalam bidang kuliner, serta harapan atau cita-citanya?”

Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini, adalah mendeskripsikan potensi  perempuan putus sekolah di Kabupaten Lombok Tengah., berdasarkan umur, tingkat pendidikan, aktivitas sehari-hari, sifat dan tingkat percaya diri, akses informasi, pengetahuan dan keterampilan dalam bidang kuliner, serta harapan atau cita-citanya.

Manfaat Penelitian

Penelitian ini sangat bermanfaat dari berbagai segi: (a) Akademis; memiliki signifkasi keilmuan sebab memberikan kotribusi pada penambahan perbendaharaan badan pengetahuan (body of knowledge) di bidang kajian gender yang relatif masih sangat terbatas. (b) Sosial; Melalui hasil penelitian ini diharapkan terbentuknya komitmen dari seluruh komponen masyarakat,terutama masyarakat adat,berani menawarkan sistem nilai baru, dimana perempuan dapat menjadi penguasa adat,bukan sebaliknya dikuasai adat, dan (c) Personal; terbentunya Gender mind set, sehingga perempuan termotivasi untuk dapat melakukan perluasan akses, partisipasi, dan bersaing untuk survive dalam kehidupannya.

Tinjauan Pustaka

Deskripsi Perempuan

Perempuan putus sekolah, merupakan sosok manusia yang tidak lagi melanjutkan pendidikan secara formal, mempunyai persoalan ekonomi, dan usianya telah memasuki angkatan kerja. Secara tegas dikatakan oleh Ida Rachmy Chalid (2009) bahwa perempuan putus sekolah, dari setiap daerah mempunyai masalah yang sama, yaitu tingkat hidup yang rendah dan pada umumnya dari jumlah keluarga yang relatif besar, tingkat pendidikan dan kesempatan belajar kurang, pengetahuan dan ketarampilan yang sangat terbatas, kurangnya sikap positif terhadap kemajuan baik karena adat, agama, maupun kebiasaan hidup. Oleh sebab itu, dalam realita hidup perempuan diberi ruang gerak yang sangat terbatas, karena sepanjang perkembangan peradaban manusia terjadilah perlakuan diskriminatif  terhadap perempuan, yang pada akhirnya kaum perempuan menjadi tidak berdaya atau terkondisikan untuk tergangtung pada kaum laki-laki (Idrus,2004). Selanjutnya Si Luh Putu Damayanti, dkk (2007) mengungkapkan kemiskinan masih tetap berwajah perempuan, dari sekitar 1,2 milyar manusia yang hidup dalam kemiskinan absolute, 70% diantaranya perempuan.

Pemberdayaan Perempuan

Menurut Rappaport (2004), pemberdayaan adalah suatu cara mampu menguasai dimana orang, organisasi, dan komunitas diarahkan agar berkuasa atas kehidupan nya. Selanjutnya, memahami pemberdayaan sebagai bahasa pertolongan yang diungkapkan dalam simbol-simbol tersebut diharapkan akan terjadi transformasi sosial kepada keluarga dan masyarakat lokal.

Kondisi tersebut dapat dilakukan apabila pemberdayaan yang dilaksanakan didukung kebijakan yang memperhatikan, (1) Enabling, yaitu iklim yang mendukung berkembangnya potensi sehingga mendorong, memotifasi, dan membangkitkan kesadaran akan sumber daya yang dimiliki, (2) Empowering, yaitu meningkatkan kapasitas dengan potensi yang dimiliki dan diarahkan pada pembukaan akses dan peluang, (3) Protecting, yaitu melindungi kepentingan dengan mengembangkan sistem perlindungan bagi masyarakat yang menjadi subjek pembangunan. Persoalan ketidak berdayaan perempuan biasanya bertalian erat dengan persoalan kemiskinan, keterbela-kangan, kekurangan kapasitas pendidikan. Sehingga dilaku kan upaya untuk pember-dayaan perempuan putus sekolah, khusunya dalam bidang ekonomi yang bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan minat, semangat, serta ketrampilan perem-puan dalam bidang ekonomi produktif. Imam Haryadi (2003), mengungkapkan bebe-rapa strategi pemberdayaan dalam bidang, sebagai berikut: (a) Penumbuhan dan Pengembangan Kelompok. Seluruh rangkai an kegiatan kegiatan Pemberdayaan ekonomi Keluarga dilaksanakan melalui pendekatan kelompok, yaitu Kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UPPKS). (b) Pembinaan dan Pengem-bangan usaha. Rangkaian kegiatan kegiatan pengembangan usaha kelompok terdiri dari peningkatan sumber daya manusia, pembinaan kemitraan, kelangsungan jaringan usaha, pembinaan produksi, dan pembinaan modal, serta pemberdayaan dalam mengakses pasar. (c) Pengembangan Keterampilan. Bagi perempuan yang tidak memiliki minat dan Keteram pilan untuk berusaha akan diarahkan pada peningkatan keterampilan yang dimiliki.

Hakekat Wisata Kuliner

Wisata menurut pendapat Winaja (2005), bukanlah produk kasat mata yang dapat dilihat atau diraba, namun kehadirannya dapat dirasakan. Sehingga wisata ini tidak lain adalah kesan atau pengalaman yang dirasakan dan dialami oleh wisatawan. Salah satu kesan dan pengalaman yang dapat dirasakan oleh waisatawan dalam  perjalanan yang menyenangkan, adalah makanan, minuman, dan jejanan yang enak dan lezat. Makan, minuman, dan jajanan tradisional khas suatu daerah di sebut kuliner. Sesungguh Cici Widya (2008), kuliner lahir dari kreasi anak bangsa dengan ciri yang khas dan mempunyai keunikan sediri, baik dari segi bahan bakunya, rasa dan bentuknya. Oleh sebab itu wisata kuliner, merupakan perjalanan wisata untuk menikmati daya tarik makanan, minuman, dan jajanan suatu daerah. Wisata kuliner dapat dikenal secara luas, karena adanya keterpaduan antara berbagai fasilitas yang saling mendukung dan berkesinambungan.(Suyitno 2006).

Karakteristik Kompetensi

Kata kompetensi ditinjau dari perspektif epistimologi berasal dari kata kompeten atau mampu. Kata mampu di sini diartikan sebagai kemampuan atau keahlian untuk melakukan suatu pekerjaan atau aktifitas. Tinjauan lebih luas mengenai makna kata kompetensi terkait dengan terminologi ketenagakerjaan, adalah suatu kemampuan yang dilandasi oleh pengetahuan, keterampilan dan sikap untuk mela kukan suatu pekerjaan (Depdiknas,2003). Sehingga diperlukan suatu standar dalam kompetensi. Thomson (2004), mengatakan bahwa standar kompetensi merupakan spe-sifikasi pelaksanaan yang diharapkan dalam pekerjaan. Ini berarti standar kompetensi suatu bidang keahlian distrukturkan dengan bentuk bagaimana menggunakan kemam-puan yang dimilikinya untuk memecahkan masalah atau melaksanakan tugas dalam situasi dan kondisi yang berbeda.

Metode Penelitian

Rancangan dalam penelitian ini, menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, karena lebih tepat dalam mencarikan jawaban pada permasalahan yang ada, sehingga data yang diperoleh akan lebih lengkap, lebih mendalam, kredibel, dan bermakna sehingga tujuan penelitian ini dapat dicapai. Penelitian kualitatif pada hakekatnya, adalah mengamati orang dalam lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka, berusaha memahami bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia sekitarnya (Sugiyono,2005).

Dalam penelitian ini yang diamati  adalah orang-orang (actor), yaitu pe-rempuan putus sekolah, dengan berbagai karakteristik yang ada padanya, seperti umur, putus sekolah pada jenjang pendidikan, sifat, sikap, akativitas (activity) sehari-hari, akes informasi, pengetahuan dan keterampilan dalam bidang kuliner khas lombok, permasalahan utama dalam mengembangkan potensi, harapan atau keinginannya kedepan. Perempuan putus sekolah yang diamati, berdomisili atau bertempat tinggal (space) di wilayah kabupaten Lombok Tengah.

Penelitian ini dilaksanakan selama 10 bulan, mulai bulan Maret sampai dengan bulan Desember 2010. Sedangkan lokasi penelitian ini, dilakukan di Kabupaten Lombok Tengah mencakup 12 kecamatan, antara lain; Batukliang, Batu-kliang Utara, Janapria, Jonggat, Kopang, Praya, Praya Barat, Praya Barat Daya, Praya Tengah, Praya Timur, Pringgarata, dan Pujut.

Untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini, dilakukan dengan tiga metode pengumpulan data kualitatif, yaitu; wawancara mendalam, pengamatan lang-sung atau observasi, dan kajian dokumentasi.

Dalam penelitian ini, pengujian kredibelitas data penelitian dilakukan dengan cara : (a) perpanjangan masa pengamatan, (b) meningkatkan ketekunan, (c) diskusi dengan anggota tim peneliti, dan (d) Triangulasi.

Analisis data menggunakan analisis kualitatif deskriptif, yaitu dengan mela-kukan reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum

Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010, jumlah penduduk Kabupaten  Lombok Tengah (angka sementara) adalah 859.309 orang yang terdiri atas 406.783  laki-laki dan 452.526 perempuan.

Mengingat sebagian wilayah Kabupaten Lombok Tengah merupakan areal pertanian, maka sebagian besar penduduknya hidup sebagai petani. Secara keseluruhan, Persentase pembagian penduduk di Kabupaten Lombok Tengah dari segi mata pencaharian adalah : Pertanian 72%, Industri 7%, Jasa 7%, Perdagangan 7%, Angkutan 3%, Konstruksi 2%, lain-lain 2%.

Karakteristik Perempuan Putus Sekolah Berdasarkan Umur

Komposisi responden berdasarkan umur dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 3. Karakteristik responden berdasarkan Umur

No

U m u r

Jumlah

Persentase (%)

1

15 – 19

309

59,42

2

20 – 24

153

29,43

3

25 – 29

43

8,27

4

30 – 34

15

2,88

T o t a l

520

100

Sumber : Hasil olahan data primer 2010

Jumlah responden yang berusia 15-19 tahun sebanyak 309 jiwa atau sebesar 59,42%, sedangkan berusia antara 20-24 tahun sebanyak 153 jiwa atau sebanyak 29,43%, dan yang berusia antara 25-29 tahun sebanyak 8,27% atau sebesar 43 jiwa, selanjutnya berusia antara 30-34 tahun sebanyak 15 jiwa atau 2,88%. Dari hasil penelitian tersebut jika dilihat berdasarkan umur, umumnya responden adalah berusia muda dan termasuk usia produktif yaitu rata-rata berusia 15-34 tahun yang cukup memiliki potensi untuk dikembangkan agar setidaknya keluar dari ambang batas kemiskinan yang sampai saat ini masih membelenggunya.

Karakteristik berdasarkan putus sekolah pada jenjang pendidikan

Hasil dari wawancara dengan responden diperoleh data tentang putus sekolah perempuan pada jenjang pendidikan sebagai berikut :

Tabel 4. Karakteristik berdasarkan putus sekolah pada jenjang pendidikan

No

Putu sekolah pada jenjang pendidikan

J u m l a h

Persentase (%)

1

SD

184

35,38

2

SMP/Mts

259

49,81

3

SMA/SMK/MA

77

14,81

T o t a l

520

100

Sumber : Hasil olahan data primer 2010

Berdasarkan pada tabel 4 tersebut di atas, perempuan putus sekolah  pada jenjang pendidikan SMP/Mts lebih mendominasi, yakni sebesar 259 jiwa atau sebesar 49,81 %, diikuti dengan putus sekolah  pada jenjang pendidikan SD sebanyak 184 jiwa atau sebesar 35,38 %, dan putus sekolah  pada jenjang pendidikan  SMA/SMK/ MA sebanyak 77 atau sebesar 14,81 %. Dari data ini dapat dikatakan bahwa perempuan putus sekolah di Kabupaten Lombok Tengah memiliki tingkat pendidikan yang relatif sangat rendah, sehingga membuatnya kurang berdaya.

Karakteristik berdasarkan aktivitas sehari-hari

Bagaimanakah aktivitas atau kegiatan sehari-hari dari responden penelitian ini, dapat dilihat seperti pada tabel 5 berikut ini.

Tabel 5. Karakteristik berdasarkan aktivitas perempuan putus sekolah

No

Aktivitas

J u m l a h

Persentase (%)

1

Dirumah

185

35,58

2

Buruh tani

294

56,54

3

Membantu di wrng/rmh makan /jualan pasar

41

7,88

T o t a l

520

100

Sumber : Hasil olahan data primer 2010

Perempuan putus sekolah berdasarkan pada tabel 5 di atas, dominasi aktivitas sehari-harinya lebih banyak pada kegiatan pertanian, karena dari jumlah responden 520 jiwa, sebanyak 294 jiwa atau 56,54% melakukan aktivitasnya sebagai buruh tani. Sedangkan aktivitas yang bersentuhan dengan penelitian ini, sangat sedikit perempuan menjalaninya, yaitu sebagai pembantu di warung/rumah makan/jualan di pasar, persentasenya kecil sekali yakni sebesar 7,88%. Kemudian yang sangat mempri-hatinkan banyaknya perempuan beraktivitas hanya di rumah saja, dan ini angkanya cukup besar yaitu 185 jiwa atau  35,58%.   Melihat dari data ini dapat dikatakan bahwa perempuan putus sekolah di Kabupaten Lombok Tengah belum produktif. Terbukti dari pertanyaan yang diajukan tentang bagaimanakah cara anda memasarkan, seandainya makanan, minuman, dan jajan, yang anda buat banyak disukai orang ?. Jawaban responden dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 6. Pemasaran produk kuliner khas Lombok

No

Memasarkan produk

J u m l a h

Persentase (%)

1

Tahu caranya

73

14,04

2

Tidak tahu caranya

447

85,96

T o t a l

520

100

Sumber : Hasil olahan data primer 2010

Karakteristik berdasarkan sifat dan tingkat kepercayaan pada diri

Tingkat kepercayan pada diri perempuan putus sekolah yang menjadi responden penelitian ini, sangat dipengaruh oleh sifat yang melekat pada dirinya, seperti terbuka dan tertutup. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 7. Karakteristik berdasarkan tingkat kepercayaan pada diri

No

Sifat dan Tingkat kepercayaan

J u m l a h

Persentase (%)

1

Terbuka dan Tinggi

369

70,96

2

Tertutup dan Rendah

151

29,04

T o t a l

520

100

Sumber : Hasil olahan data primer 2010

Bertolak dari data pada tabel 7 tersebut di atas, maka sifat terbuka dan tingkat kepercayaannya tinggi pada diri perempuan yang menjadi responden dalam penelitian ini mempunyai angka persentase cukup tinggi, yaitu 70,96%, jika dibandingkan dengan sifat yang tertutup dan kepercayaaan pada diri rendah, lebih kecil persentase yakni sebesar 29,04%. Keterbukaan dan tingginya tingkat kepercaya-an pada diri, sangat ditunjang oleh media massa, karena seluruh responden memiliki televisi dan setidak-tidaknya memiliki radio.

Karakteristik berdasarkan infomasi dari media massa tentang kuliner

Informasi dari media massa tentang kuliner yang terjaring dalam wawancara pada saat pengumpulan data di lapangan, antara lain datanya dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 8. Karakteristik berdasarkan infomasi dari media massa tentang kuliner

No

Media massa

J u m l a h

Persentase (%)

1

Televisi

459

88,27

2

Radio

61

11,73

3

Koran/majalah

0

T o t a l

520

100

Sumber : Hasil olahan data primer 2010

Melihat tabel ini, dominasi informasi, diperoleh dari media televisi, yaitu sebesar 88,27% atau ada 459 jiwa menggunakan media televise untuk mendapatkan informasi tentang kuliner. Mengingat saat ini hampir disetiap stasiun televisi menayangkan acara kuliner. Hanya sedikit dari responden menggunakan radio sebagai media untuk mendapatkan informasinya, yakni sebesar 61 jiwa atau 11,73%. Namun sangat disayangkan tidak satupun dari respoden menggunakan media koran atau majalah unuk mendapatkan informasi tentang kuliner, hal ini diduga karena madia massa cetak yang masuk sampai kedesa tidak ada yang memberikan informasi tentang kuliner.

Sedangkan informasi berkaitan dengan pengembangan kemampuan diri nampaknya belum pernah ia dapatkan. Terbukti dari 520 jiwa perempuan putus sekolah yang menjadi responden dalam penelitian ini, tak seorangpun memberikan jawaban pernah mendapatkan informasi tentang kegiatan untuk pengembangan kemampuan diri dari instansi pemerintah.

Karakteristik berdasarkan pengetahuan dan keterampilan responden dalam me ngolah kuliner khas Lombok

Sebagai gambaran dalam hasil penelitian ini, kemampuan perempuan putus sekolah, yang dijadikan responden dalam kaitannya dengan mengolah kuliner khas lombok, dapat dilihat pada tabel berkut ini :

Tabel 9. Karakteristik berdasarkan Kemampuan responden dalam mengolah kuliner khas Lombok

No

Kemampuan responden dalam mengolah kuliner

 

J u m l a h

Persentase (%)

1

Mengtahui dan Terampil

350

67,31

2

Mengetahui dan Kurang terampil

170

32,69

T o t a l

520

100

Sumber : Hasil olahan data primer 2010

Berdasarkan data tersebut di atas, hampir separuh dari responden mengetahui kuliner khas Lombok, dan mempunyai keterampilan untuk mengolahnya, sebab dari data tersebut terdapat 32,69% atau 170 jiwa memiliki kemampuan mengolah 10 jenis, bahkan lebih dari itu. Sedangkan yang tahu tetapi hanya mampu mengolah kuliner khas lombok, kurang dari 5 jenis, sebanyak 350 jiwa atau 67,31%.

Karakteristik berdasarkan modal usaha

Modal usaha, merupakan salah satu aspek yang menjadi penentu dalam melaksanakan suatu kegiatan, tidak tercekuali kegiatan berwirausaha. Tatkala hal ini ditanyakan kepada responden, jumlah keseluruhannya sebanyak 520 jiwa,100% menjawab sangat membutuhkan bantuan modal usaha.

Karakteristik berdasarkan harapan/keinginan kedepan

Berdasarkan hasil pengumpulan data diperoleh informasi tentang harapan/ keinginan/cita-cita perempuan putus sekolah ke depan dapat dilihat pada tabel, sebagai berikut :

Tabel 10. Karakteristik berdasarkan harapan/keinginan kedepan

No

Harapan/Keinginan kedepan

J u m l a h

Persentase (%)

1

Bekerja di warung/restoran/hotel

287

55,19

2

Berwirausaha

134

25,77

3

Lain-lain

99

19,04

T o t a l

520

100

Sumber : Hasil olahan data primer 2010

Berdasarkan data tersebut di atas, ada 134 jiwa, atau 25,77% respnden yang mempunyai harapan atau keinginan untuk berwirausaha, ini  lebih sedikit jumlahnya jika dibandingkan dengan yang ingin bekerja di warung/restoran/ hotel, yaitu 287 jiwa. Sedangkan yang mempunyai keinginan untuk melanjutkan sekolah, menjadi orang sukses, ingin meringankan beban ekonomi orang tua, dan ingin membahagiakan orang tua, termasuk kategori lain-lain, jumlah-nya sangat sedikit, yaitu 99 jiwa atau 19,04%.

Pembahsan

Kuliner khas Lombok banyak sekali ragamnya, dan hampir di setiap Ke-camatan bahkan Desa yang ada  di Kabupaten Lombok Tengah, memiliki ke-khasan kulinernya. Kuliner saat ini merupakan bagian dari wisata alternatif, seiring dengan hal ini, ditempat-tempat wisata tumbuh dan berkembang pula wisata kuliner.

Berkaitan dengan hal tersebut di atas, dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap perempuan putus sekolah dilihat dari potensi yang dimilikinya untuk dapat beraktivitas dalam bidang kuliner, dapat dikatakan bahwa, perempuan putus sekolah  mempunyai karakteristik yang cukup memadai untuk memasuki bidang ini. Berdasarkan karakteritik umur, relatif produktif karena berusia muda, sehingga cukup memiliki potensi untuk dikembangkan agar setidaknya dapat keluar dari ambang batas kemiskinan yang sampai saat ini masih membelenggunya.

Demikian juga berdasarkan putus sekolah pada jenjang pendidikan yang rata-rata sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah pertama, relatif jumlah banyak, sehingga memiliki keterbatasan dalam wawasan dan pola pikir, akhirnya akses informasi untuk mengembangkan potensi pada dirinya sangatlah sulit. Hal ini terbuti dari kebanyakkan perempuan putus sekolah berativitas di rumah saja, jika ada aktivi-tasnya lebih banyak sebagai pembantu atau buruh tani. Sedangkan yang bersentuhan dengan kuliner, sangat sedikit yang telah memasukinya, seperti membatu jualan di pasar, warung dan restoran. Oleh karena itu perempuan putus sekolah tidak tahu bagaimana cara untuk memasarkan suatu produk.

Keinginan mereka untuk bekerja dan berwirausaha cukup tinggi, namun sayangnya modal usaha yang menjadi salah satu bagian untuk mendorong moti-vasinya tidak ia miliki, bahkan bagaimana cara untuk mendapatkan juga tidak ia tahu, sebab selama ini belum tersosialisasikan program pemerintah tentang pemberyaan ekonomi keluarga pada perempuan putus sekolah yang menjadi responden dalam penelitian. Selain dari pada itu untuk mengembangkan kemampuan pada dirinya belum pernah ia dapatkan. Sesungguhnya sebagaimana kita maklumi bersama bahwa, informasi merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan manusia, sebab dengan adanya informasi manusia akan dapat mengetahui segala sesuatu yang dibutuhkannya.

Kemudian karakteristik, berdasarkan sifat dan tingkat kepercayaan pada diri, rata-rata angka persentasenya, menurut hasil penelitian cukup tinggi, artinya perem-puan putus sekolah yang ada di Kabupaten Lombok Tengah, sangat terbuka dan mempunyai keinginan untuk menerima perubahan, selama perubahan itu positif yang dapat memberikan keyakinannya. Keterbukaan dan tingginya tingkat kepercayaan ini, di duga karena adanya media massa baik TV, maupun radio yang dimilikinya sering menayangkan acara atau kegiatan kuliner dan kesuksesan pela-kunya. Hanya sangat disayangkan tidak ada satu media cetak yang masuk sampai ke desa, memberikan informasi tentang kuliner.

Sesungguhnya dari hasil penelitian, terungkap bahwa,  pengetahuan dan kete-rampilan responden dalam bidang kuliner khas Lombok cukup memadai, karena sebagian besar mengetahui dan dapat mengolah kuliner khas Lombok, (makanan, minuman, jajan), hanya saja belum ada satupun responden yang memberikan jawaban minuman khusus khas Lombok, semua menjawab teh, dan kopi. Artinya responden belum mengetahui nama minuman khas Lombok yang sesungguhnya. Hal ini perlu menjadikan perhatian.

Dari hasil penelitian, antara keinginan orang tua dan cita-cita anak perem-puan putus sekolah, secara keselurah sejalan, karena tidak satu orang tuapun yang tidak menyetujui, bahkan para tokohpun sependapat dan sangat menyetujuinya, ji-ka anak perempuan putus sekolah memilih pekerjaannya berwirausaha. Demikian pula dengan keinginan dan cita-cita untuk bekerja di warung, dan restoran,  hampir semuanya sama menginginkannya. Artinya ini perlu didukung untuk me-realisasikan keinginan dan cita-cata tersebut. Hanya saja untuk pekerjaan dalam bidang perhotelan masih ada yang tidak menyetujuinya, disebabkan karena ber-anggapan kurang positif, antara lain dandanan pegawai perempuan dianggap kurang etis, dan jam kerja malam yang tidak sesuai dengan aturan atau norma masyarakat setempat. Ini artinya masih diperlukan sosialisasi tentang hotel yang benar dan tepat.

Hasil kajian menyatakan bahwa, peluang kerja dalam bidang kuliner bagi tenaga kerja perempuan, masih terbuka luas, Secara umum kreteria untuk me-masukinya tidak terlalu sulit, hanya saja diperlukan tubuh dan jiwa yang sehat, sopan, jujur, rajin, ulet, dan terampil dalam mengolah kuliner. Kecuali jika yang ingin bekerja di hotel, diperlukan minimal berpendidikan SMA sederajat, ditambah adanya sertifikat keterampilan yang diberikan oleh lembaga pendidikan dan ataupun pelatihan. Berdasarkan hal ini potensi yang ada pada perempuan putus sekolah cukup memungkin untuk dapat menggeluti bidang ini secara serius. Walupun memang dari segi penilaian penerima/penyalur tenaga kerja masih diperlukan pelatihan tentang keterampilan mengolah kuliner bagi perempuan putus sekolah.

KESIMPULAN DAN SARAN

Dari hasil dan pembahasan yang telah dikemukan terdahulu, dapat ditarik suatu kesimpulan, bahwa potensi yang dimiliki perempuan putus sekolah, dilihat dari karakteristik berdasarkan umur, sifat, tingkat percaya diri, dan harapan hidupnya cukup memadai, namun apabila dilihat dari jenjang pendidikannya relatif rendah, sehingga aktivitas sehari-hari, dominasi kegiatannya sebagai buruh tani, dan sebagian besar tingggal di rumah saja, hal ini berdampak pada ketidak berdayaan, dan pola pikir, serta wawasannya terbatas. Demikian juga akses informasi dari pemerintah sangat kurang didapatkan, terutama dalam mengembangkan potensi yang ada padanya. Keinginan untuk bekerja dan berwirausaha cukup tinggi, namun terkendala dengan modal usaha yang menjadi salah satu bagian untuk mendorong motivasinya tidak ia miliki. Tingkat pengetahuan dan keterampilan dalam bidang kuliner khas Lombok relatif memadai, akan tetapi hanya saja belum ada satupun responden yang memberikan jawaban minuman khusus khas Lombok, semua menjawab teh, dan kopi. Artinya responden belum mengetahui nama minuman khas Lombok yang sesungguhnya.

Keinginan orang tua dan cita-cita anak perempuan putus sekolah, secara keselurahan sejalan, karena tidak ada satupun orang tua yang tidak menye-tujui, bahkan para tokohpun sependapat dan sangat menyetujuinya, jika anak perempuan putus sekolah memilih pekerjaannya berwirausaha. Hanya saja untuk pekerjaan dalam bidang perhotelan masih ada yang tidak menyetujuinya, disebabkan karena beranggapan kurang positif, antara lain dandanan pegawai perempuan dianggap kurang etis, dan jam kerja malam yang tidak sesuai dengan aturan atau norma masyarakat setempat.

Peluang kerja dalam bidang kuliner bagi tenaga kerja perempuan, masih terbuka luas, Secara umum kreteria untuk memasukinya tidak terlalu sulit, hanya saja diperlukan tubuh dan jiwa yang sehat, sopan, jujur, rajin, ulet, dan terampil dalam mengolah kuliner. Kecuali jika yang ingin bekerja di hotel, diperlukan minimal berpendidikan SMA sederajat, ditambah adanya sertifikat keterampilan yang diberikan oleh lembaga pendidikan dan ataupun pelatihan.

DAFTAR PUSTAKA

BPS Prov.NTB.2008. Nusa Tenggara Barat dalam Angka. Badan Pusat Statistik NTB. Mataram.

Chalid,I.R.2009.http://blogidarahmychalidwordpress.com/2009/01/02/peranan-perem-puan/. Posted on Januari 2 , 2009. di akses pada tanggal 10 April 2009.

Damayanti,SP.2007.Propil Wanita Pesisir Kota Mataram Dalam Menunjang Ekonomi Keluarga. Laporan Hibah Penelitian Studi Kajian Wanita. Dibiayai oleh DP2M Dikti. IKIP Mataram. Lombok. NTB.

Depdiknas.2003.Pengembangan Standar Kompetensi, Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta.

Hariyadi,I.2003.Pengelolaan Kredit Mikro melalui Program Pemberdayaan Eko nomi Keluarga, BKKBN, Jakarta.

Idrus.Sy.2006.Memantapkan Kemandirian Sumber Daya Perempuan. Info Bappe da NTB. ISSN 1411-0792. Edisi Kelima 2006. Penerbit Kantor Bappeda Provinsi NTB. Mataram.

Sugiyono.2005.Memahami Penelitian Kualitatif. Alfabeta. Bandung.

Suyitno.2006.Perencanaan Wisata, Tour Planning. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Rappaport,J.2004.Studies in Empowerment: Introduction to the issue,Prevention in Human Issue. USA.

Thomson.2004.Memahami Pengambangan Standar Kompetensi. Lihat: Getting To Grips With. The National Centre for Vocational Education Research Ltd, Australia. Kensington Park, Leabrook SA 5068 Australia. Proyek Kerja sama Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.

Widya,C.2008.Ensiklopedi Kuliner Nusantara, Kumpulan Resep Masakan Khas Daerah. Gunang Ilmu. Jakarta.

Winaja,I.2005.Wisata Kuliner Suranadi sebagai Salah Satu Model Pengembangan Pariwisata Budaya. Majalah Ilmiah Linguawisata. ISSN 1693-4695. Edisi Juni 2005. Volume 2. LP2M. Akademi Pariwisata. Mataram.

3 thoughts on “POTENSI PEREMPUAN PUTUS SEKOLAH DALAM BIDANG KULINER

  1. mampir sejenak untuk silaturahmi sekaligus kasih info buat Abah (Gaul) apabila tertarik untuk membuat e-Learning kami siap membantu..
    **infonya bisa lihat di blog

Silakan Komen dengan benar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s